benda kecil
Kulihat dari atas
dia berjalan menuju pintu gerbang besar itu, terlihat tanga kirinya nya
memegang sebuah benda kecil sementara tangan nya membantu tangan kiri itu
mengetik dapat disimpulkan benda itu handphone alat yg bisa digunakan untuk
berkomunikasi. Dan itu menjadi pertanyaan ku dengan siap kan dia
berkomunikasi?orang tua?teman?orang spesial? Setiap kali aku melihat dari
kejauhan selalu kulihat ia menggenggam sebuah handphone. Tau kah dia ada
seseorang perempuan yg selalu melihatnya, mungkin tidak.
Ketika itu wajah
nya berseri-seri terlihat matanya mengerut mengikuti mulut yg sedang senyum
membaca isi yg ada di handphone nya, kakinya berjalan naik turun menguti arah
jalan yg lurus. Entah apa itu isi nya ingin mengetahui apa isinya dan dengan
siapa ia berkomunikasi, namun ku tau tak mungkin ku melihat nya siapa aku tak
mungkin dia mengetahuiku
Mungkin aku pernah mengenalnya tapi mungkin dia
melupakan perkenalan dulu.Sebuah kata yg selalu ku ingat saat aku mengenalnya, sebuah
kata yg mungkin dulu ku anggap hanya sebuah kata yg iseng dia keluarkan dari
mulutnya. Tapi saat ini aku sadar mungkin itu sebuah perhatian darinya tapi
sayang perhatian itu bukan lagi miliku mungkin milik orang yg sedang
berkomunikasi dekat dengan nya. Seorang yg mungkin sedang mengisi hatinya bukan
aku tapi dia.
Perlahan sebelum dia menuju gerbang itu dia berdiri disamping
teman nya dia mengobrol bercanda bersama temannya, mungkin dia memang sedang
asik memegang benda itu sampai ia saat berbicara dengan teman nya pun dia masih
tersenyum dan tek pernah lepas memegang benda mungil berwarna hitam itu. Ingin
aku turun dan tersenyum padanya memberi tanda bahwa aku masih mengingatnya.
Sayang aku tak pernah mendengar dia memanggilku lagi seperti
dulu, memberi ku perhatian seperti kata katanya dulu dan kata yg ia ucapkan
‘’rambut masuka kedalam jangan keliatan akan ada sekelompok orang yg marah’’
kata itu takan pernah ku dengar lagi selama ia masih belum mengingat ku lagi.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar