Rabu, 28 Maret 2012

argi dan irgi


Tuhannnnnnn setega itu kah kau padaku kau ambil dia tanpa meminta ijin dariku. Kau ambil dia saat aku merasa tenang bersamanya merasa bahagia didekatnya, itu yg saat ini dipikiran ku. Betapa teganya dia mengambil nyawanya tanpa tau mungkin orang itu tak ingin meninggalkan kami, tapi itulah takdir tak seorang pun tau. Dan kita harus bisa mengikhlaskannya

‘’sayang ikhlaskan kepergian argi, argi pasti udah bahagia disana’’mamah argi memang sudah ku anggap sebagai mamah kedua bagiku.

‘’maaf mah jujur aku masih gak bisa kehilangan argi’’

‘’sabarr ya belajar buat lepasin dia’’.

Sebulan berlalu argi ninggalin aku sendiri tanpa senyumannya tanpa canda tawaan nya yg selalu membuat hari ku berwarna. Aku mulai belajar ngelepasin dia, aku pergi kesekolah dengan semangat baru tanpa argi aku jarus tetep bisa jalanin semua karna pasti argi senang melihat itu.

Tengg pejaran pertama akan segera dimulai
Tengg peajaran ke empat telah berakhir saat nya istirahat pertama. Syukurlah istirahat saat dielas aku hanya memikirkan dia.

‘’lu jangan mikirin dia terus kasian dia disana kalo liat kamu masih nangisin kepergian dia’’ya itulah wina sahabat yg selalu menemaniku semua rasa sedih ini terkadang hilang saat aku bersama wina.

‘’makasih udah perhatian sama aku win jujur aku emang gak bisa lupain dia tapi aku bakalan belajar lepasin dia’’

‘’yaudah kita kekantin aja yuk?’’

‘’ide baguss J’’
Kantin sedang ramai-ramainya, wajar lah ini kan kantin baru mungkin baru 2minggu dibuka.

‘’lu aku ke toilet dulu ya’’ itulah kebiasaan wina pasti aja sebelum ke makan pasti aja ke toilet dulu. Terpaksa aku harus memesan makanan sendiri, karna aku dan wina punya makanan kesuakaan yg sama aku pesan saja dua nasi goreng dan dua air mineral. Saat aku duduk menunggu pesanan aku melihat sesosok pria yg melewati tempat duduk ku dia sedang tertawa bersama teman-temannya, entah apa yg ada dipikiran ku aku masih melihat nya ternyata dia dia mirip dengan argi amat mirip senyumnya dan perkataan yg diucapnya mirip dengan argi.

‘’lulu mana pesanan kita’’

‘’hah itu udah aku pesenin kok’’ saat aku menjawab pertanyaan wina mataku tak lepas darinya ternyata dia duduk didekat meja ku dia memesan makanan yg sama dengan ku nasigoreng . tuhan apa ini kenapa kau memperlihatkan sosok argi dengan wajah yg berbeda.

Semua pelajaran telah berakhir semua siswa boleh pulang. Hmm bel yg selalu di tunggu
‘’lulu kamu pulang sendiri yah aku dijemput nih’’

‘’oh ya gak papa’’ akhirnya aku pulang sendiri dengan pikiran yg tertuju pada dia dia yg kembali mengingatkan ku pada argi. Sebelum keluar gerbang sekolah aku melihat kebelakang siapa tau aku melihat nya lagi, dan ya aku melihat nya senyumannya mirip dengan argi. Hati ku bertanya-tanya apakan sifat dia mirip dengan argi, tak sengaja dia menyenggolku
‘’eh maaf maaf’’ sambil pergi dan hanya tersenyum mungkin senyuman itu bukan untuku tapi sisa senyumanya bersama teman-teman nya. 

Aku pulang dengan berjalan kaki kebetulan rumah ku tak jauh dari sekolah dulu saat argi masih ada biasanya aku naik sepeda bareng. Tapi saat ini aku belum bisa terlalu banyak kenangan yg ada ketika aku menaiki sepedah, tak lama terdengar suara motor yg mendekatiku dan mereka mengambil tas ku aku berterikn ‘’copett,copet tolong’’ mereka pergi dan aku hanya menangis seseorang datang mengikuti maling itu dan mengambil tas ku dia berikan tas itu padaku.
Dia coba membantuku berdiri,  ketika itu aku masih ketakutan. Aku menolak bantuan nya

‘’hey kamu gak papa? Ini tas mu’’ aku tak menjawabnya aku mengambil tasku tanpa melihat wajahnya tangan ku dingin bibir ku bergetar mungkin karna rasa takut yg belum juga hilang. dia mengullurkan tangan nya. Aku lihat tangan itu bersih putih dan hanya ada cakaran kecih dibawah ibu jari, aku menggapai nya tanpa sadar aku memeluk dia rasanya aku pernah memeluk tubuh ini, ya seperti argi. Tak sadar aku menangis dan memanggil nama argi.

‘’hey kenapa menangis dan maaf aku irgi bukan argi’’ setelah mendengar bahwa dia bukan argi aku melepaskan pelukan ku darinya.

‘’oh maaf dan terimakasih’’ aku lari dan pergi menjauhinya, ternyata langkah kakiku bukan pergi ke rumah tapi ke tempat dimana tempat itu adalah rumah irgi, makam. Tempat itu saat ini menjadi rumah kedua bagi irgi dulu dia selalu bercanda kalo dia pengen punya rumah diatas makam, tak disangka itu semua terkabul tapi bukan rumah yg dia bangun tapi dia menempati rumah barunya yg disiapkan dengan rasa duka dari orang-orang yg menyayanginya.

‘’argi kmau tau saat ini aku sedih banget ada orang yg jahat sama aku, untung ada seseorang yg membantuku dia seseorang yg baik dan mirip dengan mu namanya pun tak jauh beda denganmu. Apa kamu mengirimkan seseorang yg mip dengan mu?’’ aku berkata seperti itu dengan mata yg mengeluarkan sebuah air mata, tiba-tiba hujan mendera membasahiku yg berada dimakam argi hanya aku yg berada dimakam itu mungkin argi menemaniku. Tapi aku mulai sadar tubuh ku tak basah padahal hujan masih beras aku lihat keatas sebuah payung yg menutupi tubuhku sempat ku berpikir itu argi ternyata..

‘’kamu apa yg kamu lakukan disini?’’

‘’maaf aku mau mengembalikan ini’’

‘’tas ku, oh makasih ya irgi J’’

‘’kita berteduh ya’’ dia menarik tanganku berlari bersamaku.

Tempat berteduh yg tak jauh dari makam dan banyak orang juga yg ada diana. Di tengah kesunyian yg hanya terdengar suara air hujan yg deras dia membuka kesunyian ini

‘’kalo boleh tau argi itu siapa?’’ pertanyaan yg dilontarkannya membuatku menangis tak henti air mata ini terus mengalir. Terlihat tangan berada di dekat mataku sedang memegang  sebuah tisu yg tak lama tangan itu memngahpuskan air mataku, dan tangan itu milik irgi dia berkata ..

‘’maaf apa kata-kata aku menyinggung?’’

‘’kamun tau rasanya kehilangan sesosok orang yg selalu menemani kita tiba-tiba saja pergi tanpa membeitahu kita tanpa mengucapkan selamat tinggal. Mungkin dia udah senang disana tapi apa dia tau disini ada banyak orang yg merasa kehilangan dia’’

‘’jadi argi itu orang special dikehidupan kamu, dan dia nigglin kamu. Aku tau rasanya dan itu pasti sakit banget’’
‘’kenapa tadi kamu ngikutin s=aku sampe ke makam?’’

‘’aku Cuma ingin ngasih tas kamu dan ada sesuatu yg aku liat dikamu’’

‘’apa?’’

‘’seseorang yg selalu jaga kamu disamping kamu seakan dia beri isyarat kalo aku harus jagain kamu selama dia udah gak bisa jaga kamu dan hanya bisa liat kamu dari kejauhan’’

‘’siapa dia?aku dari tadi sendiri! Apa itu argi’’

‘’entahlah tapi gak tau aku ingin jagain kamu, kamu tau setelah aku menyenggol kamu disekolah setiap malam aku mimpiin cowok yg selalu bilang tolong jaga lulu. Aku tak taau lulu itu siapa dan apa maksudnya ternyata lulu itu kamu dan dia ingin aku jagain kamu’’

‘’kenapa kamu mau?bisa aja kan itu hanya sebuah mimpi’’

‘’kamu tau aku adalah tipikel orang yg selalu percaya terhadap mimpi’’ aku terdiam mungkin ini memang benar bahwa argi mengirim seseorang untuk menjagaku.

‘’apa mungkin argi mengirimku untuk ku?emang dia udah ikhlasin aku gitu?’’

‘’aku gak tau tapi yg aneh saat aku mimpiin itu ada sebuah surat dibawah bantal tidur ku terselip sebuah surat yg berisi sebuah klu ‘temani dia’ aku sempat heran dan bertanya kepada orang tuaku siapa yg mengirim surat ini dan mereka tidak tau sampe ahirnya aku tau maksud nya’’

‘’emang kamu mau jagain aku?’’

‘’aku sayang sama kamu nsejak pertama bertemu dan aku mau jagain kamu selamanya’’

Dengan kejadian hari itu aku dapat meng ikhlaskan argi karna aku tau argi ingin melihat aku bahagia sekalipun bukan sama dia tapi dia pasti senang karena aku diajaga oleh orang yg dia pilih sendiri irgi. Aku dan irgi pun seminggu sekali pasti jenguk argi. Sekarang aku dapat menyimpulkan sekalipun kita ditinggal oleh yg pernah kita sayang yakin pasti akan ada yg jauh lebih baik dariya dan itu kiriman darinya J.

benda kecil


Kulihat dari atas dia berjalan menuju pintu gerbang besar itu, terlihat tanga kirinya nya memegang sebuah benda kecil sementara tangan nya membantu tangan kiri itu mengetik dapat disimpulkan benda itu handphone alat yg bisa digunakan untuk berkomunikasi. Dan itu menjadi pertanyaan ku dengan siap kan dia berkomunikasi?orang tua?teman?orang spesial? Setiap kali aku melihat dari kejauhan selalu kulihat ia menggenggam sebuah handphone. Tau kah dia ada seseorang perempuan yg selalu melihatnya, mungkin tidak.


Ketika itu wajah nya berseri-seri terlihat matanya mengerut mengikuti mulut yg sedang senyum membaca isi yg ada di handphone nya, kakinya berjalan naik turun menguti arah jalan yg lurus. Entah apa itu isi nya ingin mengetahui apa isinya dan dengan siapa ia berkomunikasi, namun ku tau tak mungkin ku melihat nya siapa aku tak mungkin dia mengetahuiku

 Mungkin aku pernah mengenalnya tapi mungkin dia melupakan perkenalan dulu.Sebuah kata yg selalu ku ingat saat aku mengenalnya, sebuah kata yg mungkin dulu ku anggap hanya sebuah kata yg iseng dia keluarkan dari mulutnya. Tapi saat ini aku sadar mungkin itu sebuah perhatian darinya tapi sayang perhatian itu bukan lagi miliku mungkin milik orang yg sedang berkomunikasi dekat dengan nya. Seorang yg mungkin sedang mengisi hatinya bukan aku tapi dia.


Perlahan sebelum dia menuju gerbang itu dia berdiri disamping teman nya dia mengobrol bercanda bersama temannya, mungkin dia memang sedang asik memegang benda itu sampai ia saat berbicara dengan teman nya pun dia masih tersenyum dan tek pernah lepas memegang benda mungil berwarna hitam itu. Ingin aku turun dan tersenyum padanya memberi tanda bahwa aku masih mengingatnya.


Sayang aku tak pernah mendengar dia memanggilku lagi seperti dulu, memberi ku perhatian seperti kata katanya dulu dan kata yg ia ucapkan ‘’rambut masuka kedalam jangan keliatan akan ada sekelompok orang yg marah’’ kata itu takan pernah ku dengar lagi selama ia masih belum mengingat ku lagi.



Saat dia sendiri

Saat dia bersama yg lain

Saat dia berdiri dan aku melewatinya dia terdiam dia hanya memberi isyarat dengan diam tanpa ada gerakan yg memberi sebuah pertanda. Dengan raut wajah yg tanpa ekspresi  aku melihatnya dalam hati aku bicara ‘’ingin aku mendengar sapaan nya’’. Dengan itu aku melewatinya mungkin baginya itu hanya angin lalu tapi bagiku itu sebuah angin yg selalu mengerumuni didekatku sehingga selalu terasa sejuk. Tak sadar setelah ku melewatinya pikiranku tak jauh darinya.
Saat dia sendiri menuju sebuah ruangan dimana aku berada `dekat ruangan itu. Aku terdiam ingin aku tersenyum padanya, aku lirik dia aku senyum sedikit dan dia melihat ku dia hanya melihatku yg aku liat dia hanya melihatku tanpa sebuah ekspresi. Itu adalah sebuah anugrah itu sebuah pertanda bahwa dia masih mengingatku, itulah yg selalu membuatku bahagia. Mereka bilang itu hanya ke gr-an saja, tapi itu lah aku hidup dalam ke gr-an yg membuatku bahagia.

Saat dia bersama yg lain dia begitu manis dia tertawa riang dia terlihat senang, dan aku melihat nya hati terasa senang meliat dia bahagia. Dia tertawa aku melihatnya dan aku hanya tersenyum, tak lama ia melihat ku aku masih tersenyum padanya dan saat itu dia masih menyisakan senyumannya saat tertawa bersama temannya. Senang kalo dia tidak menyukai aku dalam artian bukan cinta dia pasti saat melihatku langsung menutup mulutnya dan menyisakan senyumanya ketawanya hanya untuk teman-temannya. Tapi dia tidak dia masih menyisakan senyumannya untuk ku.

Ketika semua itu terjadi aku sedang terdiam memikirkan hal itu semua aku pikirkan mungkin itu yg membuatku sekarang seperti ini. Ketika itu aku hanya hanya sendirian ditaman yg sepi dan hanya awan berwarna putih biru dan hanya memegang tiga balon berwarna putih,biru,dan pink. Saat itu suasana sepi sunyi hanya suara burung yg menemani, beserta suara air yg mengalir di alirannya betapa sunyi nya tempat ini membuat sebuah ketenangan.

Ballon ya benda itu yg saat ini aku pegang. Di ballon warna putih ku selipkan kertas yg berisi ‘’aku ingin lulus saat UAS dan UN’’ sebuah harapan yg semua anak sekolah inginkan. Perlahan ku lihat balon itu sedang bergerak tertiup angin. Begitu sejuknya angin yg melewati kami.

Ballon berwarna biru itu berisi impian yg besar sama besar nya dengan harapan di ballon putih itu. Harapan yg aku cita-citakan bersama sahabatku dan harapanitu ‘’aku ingin masuk SMA NEGERI 1 Tasikmalaya’’ kertas putih itu aku isi harapan yg besar, berharap bisa masuk. Bukan hanya aku yg ingin masuk ada beberapa yg ingin juga memasuki sekolah favorit itu,berharap semua masuk ke sekolah itu.

Terakhir balon berwarna pink itu sebuah harapan kecil yg tak mungkin terjadi kecuali yg diatas mengijinkan mungkin semuanya memang yg diatas yg mengatur tapi yg ini aku selalu gak yakin akan dapetin dia. Harapan aku itu ‘’ingin dia’’, dia seorang famous disekolah dan aku hanya seseorang yg biasa saja. dan itu lah yg selalu membuat ku dia memang tak akan menjadi milik ku, tapi sebuah harapan bisa saja merubahnya tanpa campur tangan orang lain dan tanpa ada yg tau.

Ketiga kertas putih yg telah kutulis harapan dan ku simpan di dalam ketiga ballon berbeda. Aku berdiri ditemani tiupan angin yg begitu sejuk, rambutku tertiup angin dengan ballon yg ternyata juga ikut bergerak. Mungkin mereka ingin diterbngkan, perlahan ku terbangkan mereka. Satu persatu ballon itu terbang keatas, ku lihat mereka tersenyum sekan memberi sebuah isyarat bahw mereka senang dan sip mengantarkaan harapanku ke atas langit.
Aku pergi meninggalkan taman ketenangan ini, pergi dengan harapan yg tinggi bahwa semua aka terkabul. Sekarang taman itu lebih sepi tak ada yg mendatanginya hanya ada suara air sejuk nya tiupn angin dan ballon yg masih terbang tak jauh dari taman itu.

Rabu, 14 Maret 2012

tentang dia

waaaaaaaaaahhhhhh tadi senenggggg bangettttttssssss
seakan ingin banget diulang.
yaa dimulai tadi pagi sebelum olahraga, tadi pas aku lagi dikelas bareng riksa aku udah liat bapau dia lagi ngobrol sama temen nya anak kls b aku terus liatin dia yah lumayan lah pemandangan inda gak boleh disiasiakan. tak lama dia masuk kelas aku terus melihatnya hingga masuk kelas karena kelas diakan gak jauh malah pa pingir-pinggir,gak lama dia keluar kelas lagi ternyata dia mau ke kelas b waktu dia ngelewat kelas aku dia liat ke kaca dan mengarah ke aku, aku langsung senyum dia juga bales senyuman aku *huaa seneng serasa fly. dan pas waktu dia melewati pintu kelas dia masih ngeliat ke arah aku aku masih senyum padanya dan yg buat aku seneng waktu aku tau kalo dia cuma ngelewat kekelas aku aja gak ngobrol sama temen nya oohh seneng nyaa.

selain itu juga tadi waktu olahraga dia kan lagi belajar eksyar aku terus liatin kelas nya siapa tau dia keluar dan liat aku. ternyata ia waktu jam pelajaran pertama berahir dia keluar nunggu guru jam kedua dateng dia liat ke aku, tanpa di siasiakan aku ngelirik ke arah dia. dan waktu itu aku lagi ngobrol sama windu. pass aku lagi ngobrol+liatin dia evan dateng
''hei pang beliken minum lah nu te dingin'' karena gak tega akhirnya aku beliin bukan hanya karna itu juga sih abis aku tau kalo bapau tuh lagi jajan dikantin. aku minta anter windu buat beli minum,ternyata pas aku mau masuk kantin dia keluar dia melewati aku dengan gayanya yg imutttt bangetttttttt.

aku suka gaya dia yg waktu kelas 7 unyuunyu gimana gitu dengan pipi yg tembem kaya bakpau itu, aku paling inget kejadian waktu diangkot pas waktu aku sama dia seangkot tiba-tiba angkot kita dinaiki banci, banci itu berpakaian seksi pakai baju peminim rok yg mungkin ada di atas lutut dia sama temen nya terus ngeliatin aku disitu ketawa geli. dan yg palinggg aku inget juga waktu itu bangku aku dibelakang paling belakang dia duduk deket bangku aku saat itu aku lagi nulis tiba-tiba dia yg lagi ngobrol sama temen-temen nya tiba-tiba dia megang rambut aku dia bilang ''tah rambut keliatan masuken bisi di razia'' *ohh my gatttt dia dia perhatian
tapi waktu itu aku biasa aja karna aku beranggapan dia cuma ya iseng,tapi saat ini aku pikir itu sebuah perhartian kali yahh.

aku suka dia :*

Sabtu, 10 Maret 2012

dear friend

kalian tau saat kalian diejek itu rasanya sakit! mungkin kalian tau rasanya dan itu sakit.
kalian tau saat kalian ejek nama ibu atau ayah ku rasanya sakit banget
kalian tau saat itu rasanya aku ingin marah dan ingin mengatakan jangan pernah ejek orang tuaku
kalian tau aku bangga punya orang tua seperti mereka
kalian tau aku sayang pada mereka
aku dibesarkan oleh mereka
aku tau kalian hanya bercanda, tapi apakah kalin tau saat kalian mengejek rasanya sakit banget
karena saat itu aku merasa bangga pada mereka merasa senang dibesarkan oleh mereka,dan kalian membuatku marah seakan kalian mengejek kedua orang tuaku dan itu menurut agama pun dosa